Postingan

Gambar
Kita Adalah Sajak Hilang  dalam hitungan 1,2,3 Engkau anugerah, engkau mukjizat, engkau mahkota dunia. Kami bermain tanpa takut. Batobo tanpa ragu. Hilang dalam hitungan 1,2,3 Hilang negeriku. Apa yang bisa ditanyakan ketika kejujuran direnggut oleh ketakutan? Kau ibarat hujan. Yah, kau hujan dan tahu bahwa jatuh memang sakit. Kau tidak pernah berhenti untuk jatuh. Maukah kau ku sebut “BANGSAT”? Terlalu berkobar wahai yang munafik! Kau bisa berbuat apa saja. Sehingga “ADA” kehilangan maknanya. Sungguh bahwa kesungguhan itu nyata. Tanpa melihat pun terlihat, namun buta dalam melihat. Mencuri hikmah disetiap lingkungan. Inikah bumi yang kita banggakan? Dimana yang pantas menjadi dalang adalah para penguasa itu. Dan kami? Kami ibarat dayang yang siap dipermainkan. Ha ha ha.. kau cukup merepotkan sayang. Bisakah kau diam untuk malam ini saja? Aku bosan dengan suaramu yang berasal dari podium partai. Dari alurmu yang sakral. Kau sebut dunia ini sebaga...
Gambar
Percayalah ( alilatulbariza ) Sudahlah, jangan terus menerus diratapi, semua keadaan itu pasti berdurasi, karena di dunia ini memang tidak ada situasi yang lestari, suka duka sedih bahagia akan datang silih berganti, cukup kau jalani dan jangan kau keluhkan apapun yang telah menjadi ketetapan, karena pun juga kau tidak pernah benar-benar tahu, antara suka dan duka itu manakah yang lebih baik darimu. Segala hal yang Ia gariskan pastilah suatu kebaikan jika kau mau berusaha mengerti, maka tak pantas terhadap apa yang belum juga selesai kau hadapi sudah terlebih dahulu buru-buru kau ratapi. Jalani saja apa yang ada, nikmati alurnya dan berbaik sangkalah kepada-Nya, niscaya pasti kan kau terima, lebih dan lebih dari apa yang selama ini kau harap dan kau pinta. Meski garis tak melulu membahagiakan, namun pasti kesemuanya adalah suatu kebaikan, jika tidak sekarang mungkin nanti atau esok hari barulah bisa kau akan mengerti, bahwa pada yang demikian itu terdapat bukti cinta ...
Gambar
SAYUP KEKASIH Ya Rab.. Bergetar hati kala bunyi sunyi itu menyambar. Dengan penuh kasih dan hikmah. Terselip syahdu hingga syahwat terguncang. Entah pertanda apa saat hamba hendak ingin mengAdam. Mematikan seluruh makhluk biasan-Mu. Datang diam-diam sebuah pesan. Sahaja pesan turun dari lauh mahfuz. Bahwa kalam masih melekat pada pohon. Bahwa helai hamba masih belum menyentuh tanah. Bahwa mestinya hamba menanti badai tak bernyawa. Terdiam dalam bahagia dengan penuh syukur. Tapi, sampai kapan hamba tetap dalam penantian untuk mengAdam. Seraya sudak tak kuasa melirik kefanaan. Ketakjelasan dan keangkuhan makhlukmu. Ya Huu. Ya Ruh. Sahaja ku serahkan seluruh jiwa dan badan. Panjatkan kecintaan ini dalam takbir dan tahlil. Menyabar, mengikhlaskan agar berada disisi-Mu. Jika kesempatan bernafsu Kau beri lagi. Maka berilah ketabahan dalam penantian mengAdam hamba. Berkatilah Sirotal Mustakim ini. Dekatkanlah tarekat ini. Sementara hamba bersemayam dalam ketu...
Gambar
Benciku Juga Rinduku Oleh : Wiwi Purwasih A.Dodengo Tak bisa ku tahan lagi. Tentang sepiku yang kau balut dengan samar-samar. Kini mengajakku bermuram. Kau pun tahu itu. Tapi, kau menelantarkan resahku tanpa ragu. Apa maumu? Maumu apa? Siapa kau yang bersembunyi dibalik kata. Diamku tak bermakna apapun.  Karena sengaja ku kekang dengan egomu. Kau membiarkanku tergeletak  dipersimpangan jalan.  Dan tak sanggup lagi ku merangkai hidup yang kian redup.  Dulu kau pernah bertutur tentang para penghuni langit.  Dengan lihai, kau membuat sepasang sayap merpati putih untukku.  Namun, ketika ku mulai mengepakkan sayapku kau melenyap. Awan awan menghitam menyampaikan nada pilu. Naluriku bertanya, mungkinkah rindu ini kan menetap? Bagaimanapun, hidup adalah sebuah teka teki yang merahasia. Setitik rasa itu menetes dan semakin parah. Bila jarak hanyalah omong kosong, bagaimana bisa ku menanggungnya. Ratusan p...
Gambar
BAHASA DAN INDONESIANYA Oleh : Wiwi Purwasih A. Dodengo Rasanya sukar dan sedikit berbelit jika tulisan ini harus dibumbui dengan diksi-argumentatif yang diprediksi bersifat historis, apalagi tentang sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Tema ini memang tidak pernah habis dibicarakan. Kita bisa baca sumber-sumber dari sejumlah buku yang isinya “macam-macam”.  Dimulai dari berdirinya kerajaan-kerajaan yang dipengaruhi oleh kultur Melayu sampai pada berdirinya Balai Pustaka yang dinilai punya keterpengaruhan kultur Hindia Belanda. Apalagi ditambah dengan proses belajar yang hanya bisa dinikmati selama 3 jam yang diembel-embeli dengan komika. Sebut saja mata kuliah dasar di semester awal; “Sejarah Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia”. Maka lengkaplah penderitaan belajar kita karena tidak sampai taraf memahami. Mari kita sampingkan bagaimana proses belajar itu berlangsung di dalam kelas berukuran 4x4 meter. Sekali lagi, bukan karena proses belajar di dalam kelas k...
Gambar
Pesing Bau pesing, wangi pun pesing, Hujan pesing. Basah air tak membasahi, tetap pesing. Tak kering pun tandus masih pesing. Orang-orang berbicara pesing. Yang mendengarnya pesing. Kita semua pesing. Kepesingan itu geram. Kepesingan itu kusut, renta, dan kusam. Kepesingan itu busuk. Pesing pesing Masih tetap pesing. Hingga tak bisa terjamah oleh waktu. Selalu pesing. Kejayaan menyusut pesing. Kekayaan menciut pesing. Kemakmuran menumbuh pesing. Kemelaratan semakin pesing Agghhh.. Gaduh, riuh, bisu menggelitik amarah. Aku pesing. Kau pesing. Kita pesing. Pesing Kepesingan, pesing, pesing, pesing,masih saja pesing. Yang bersikukuh pesing. Yang berkhotbah pesing. Yang berdali pesing. Yang berjuang pesing. Yang berjiwa pesing. Yang tidak yang pesing. Yang pesing semakin pesing. Pe-sing. -orang pesing
Gambar
"yang lebih mesra"  Junfahriel Tadi Hampir saja aku terlelap.. Terlelap tanpa sepenggal syair untuk menutup malam.. Rasa rugi yang amat besar saat purnama setengah badan tida dan engkau tidak berani berkata jujur.. Ya, berkata itu tak harus puitis.. Biar yang para pecinta juga bisa lebih manis.. Syair tak selalu lekat dengan satu tanda untuk mengartikan yang lain.. Tak selalu himpit dan sebuah magna yang ambigu.. Karena ungkapan kejujuran yang dibubuhi dengan ketulusan itu lebih sempurna.. Untuk malam ini tak harus terlalu genit.. Apalagi berbicara dengan kemesraan.. Sebab rembulan malam ini lebih mesra.. Tapi sayang awan tak mau mengelak.. Sepertinya awan juga ingin dinikmati.. Walau terlihat jelek dan kusam.. Awan dan rembulan itu sama.. Mereka sama-sama menghiasi dan bergeliat diawal zulhijah.. Musafir 22 agustus 2018